Rabu, 23 Oktober 2019


HUBUNGAN ANTARA HUKUM DAN PRANATA PEMBANGUNAN

A. HUKUM

Hukum merupakan seperangkat kaidah,norma serta nilai-nilai yang tercermin dalam masyarakat yang menentukan apa yang boleh dan yang tidak dibolehkan untuk dilaksanakan. Dalam pandangan Prof.Achmad Ali (Menguak Tabir Hukum, 30) hukum dimanifestasikan dalam wujud:
  1. Hukum sebagai kaidah (hukum sebagai sollen); dan
  2. Hukum sebagai kenyataan (hukum sebagai sein).

Selanjutnya beliau menambahkan bahwa yang utama adalah hukum sebagai kenyataan dimana memuat keseluruhan kaidah social yang diakui berlakunya oleh otoritas tertinggi yang ada dalam masyarakat tersebut. Oleh karena itu definisi hukum menurut Prof. Achmad Ali yaitu: “Hukum adalah seperangkat kaidah atau ukuran yang tersusun dalam suatu sistem yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh manusia sebagai warga dalam kehidupan bermasyarakatnya. Hukum tersebut bersumber baik dari masyarakat sendiri maupun dari sumber lain yang diakui berlakunya oleh otoritas tertinggi dalam masyarakat tersebut, serta benar-benar diberlakukan oleh warga masyarakat (sebagai satu keseluruhan) dalam kehidupannya. Jika kaidah tersebut dilanggar akan memberikan kewenangan bagi otoritas tertinggi untuk menjatuhkan sanksi yang sifatnya eksternal.”

B. PRANATA

Pranata adalah sistem tingkah laku sosial yg bersifat resmi serta adat-istiadat dan norma yg mengatur tingkah laku itu, dan seluruh perlengkapannya guna memenuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia dl masyarakat; institusi.

C. PEMBANGUNAN

Pembangunan adalah semua proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana. Beberapa ahli di bawah ini memberikan definisi tentang pembangunan, yakni:
  • (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005). Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
  • (Johan Galtung) Pembangunan merupakan suatu upaya untuk memenuhan kebutuhan dasar manusia, baik secara individual maupun kelompok, dengan cara-cara yang tidak menimbulkan kerusakan, baik terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan sosial.
  • (Nugroho dan Rochmin Dahuri, 2004) Pembangunan dapat diartikan sebagai `suatu upaya terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga negara untuk me¬menuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi.
  • Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan per¬ubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”.

Hukum pranata pembangunan “suatu peraturan interaksi pelaku pembangunan untuk menghasilkan tata ruang suatu daerah menjadi lebih berkualitas dan kondusif.Hukum pranata pembangunan untuk menyempurnakan tatanan pembangunan pemukiman yang lebih teratur,berkualitas dan berkondusif bagi pengguna dan pemerintah daerah. Di karenakan kurangnya lahan terbuka untuk penghijauan dan resapan air hujan untuk cadangan air tanah dalam suatu kawasan/daerah. Pelaku pembangunan ini meliputi Arsitektur, pengembang, kontraktor, dinas tata kota dan badan hukum.

Pembangunan harus juga ditujukan bagaimana merubah prilaku rakyat bangsa Indonesia, dari perilaku yang serba terbelakang menuju kearah perilaku yang lebih maju sosial ekonomi, budaya, akhlak serta perilaku yang sejahtera dengan memahami hak dan kewajibannya sebagai warganegara. Dalam konteks ini jelas pembangunan tidak dapat dipisahkan dari kesadaran dan kepatuhan manusia atau masyarakat terhadap nilai-nilai hukum. Pembangunan hukum harus dilakukan secara simultan dengan perencanaan pembangunan lainnya yang dilaksanakan dalam proses perencanaan pembangunan suatu bangsa secara global, karena sasaran akhir (goal end) perencanaan pembangunan adalah “prilaku manusia” yang mematuhi nilai-nilai pembangunan itu sendiri.

HUKUM PRANATA PEMBANGUNAN MEMILIKI EMPAT UNSUR :

1.      Manusia
Unsur pokok dari pembangunan yang paling utama adalah manusia.Karena manusia merupakan sumber daya yang paling utama dalam menentukan pengembangan pembangunan.
2.      Sumber daya alam
Sumber daya alam merupakan faktor penting dalam pembangunan. Sumber daya alam sebagai sumber utama pembuatan bahan material untuk proses pembangunan.
3.      Modal
Modal faktor penting untuk mengembangkan aspek pembangunan dalam suatu daerah.Apabila semakin banyak modal yang tersedia semakin pesat pembangunan suatu daerah.
4.      Teknologi
Teknologi saat ini menjadi faktor utama dalam proses pembangunan.Dengan teknologi dapat mempermudah, mempercepat proses pembangunan.

STRUKTUR HUKUM PRANATA PEMBANGUNAN

Struktur Hukum Pranata di Indonesia :

1.      Legislatif (MPR-DPR), pembuat produk hukum
2.      Eksekutif (Presiden-pemerintahan), pelaksana perUU yg dibantu oleh Kepolisian (POLRI) selaku institusi yg berwenang melakukan penyidikan; JAKSA yg melakukan penuntutan
3.      Yudikatif (MA-MK) sbg lembaga penegak keadilan Mahkamah Agung (MA) beserta Pengadilan Tinggi (PT) & Pengadilan Negeri (PN) se-Indonesia mengadili perkara yg kasuistik; Sedangkan Mahkamah Konstitusi (MK) mengadili perkara peraturan PerUU.
4.      Lawyer, pihak yg mewakili klien utk berperkara di pengadilan, dsb.


CONTOH BENTUK KERJASAMA ANTARA PELAKU PEMBANGUNAN BESERTA TUGAS DAN KEWAJIBAN




Sumber: https://www.academia.edu/7423083/BAB_I_PENDAHULUAN%3Ewww.lpse.hulusungaiselatankab.go.id/eproc/publicberitadetail.filedownload:download/31343430353238323b31;jsessionid=F6A68FA046C959267C7E460110364886?t:ac=408282http://anggabger.blogspot.co.id/2013/10/hukum-pranata-pembangunan.html

Sabtu, 15 Juni 2019


Serba – serbi pemilu 2019

Pemilu 2019 kali ini melaksanakan pemilihan secara serentak mulai dari calon anggota legislatif (caleg) tingkat kota/kabupaten, provinsi, pusat, perwakilan daerah, hingga pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Puluhan ribu caleg telah terdaftar dalam 20 partai politik yakni 16 parpol tingkat nasional, dan empat parpol lokal tambahan khusus untuk di Provinsi Aceh.
Seluruh caleg akan bertarung untuk memperebutkan 17.610 kursi anggota DPRD tingkat kabupaten/kota, 2.207 kursi anggota DPRD tingkat provinsi, 575 kursi anggota DPR RI, dan 136 kursi anggota DPD.
Pemilih yang telah terdaftar di dalam Daftar Pemilih (DPT/DPTb/DPK), dapat menyalurkan suaranya dengan membawa Formulir C6 dan datang ke Tempat Pemungutan Suara yang telah ditentukan mulai pukul 07.00 - 13.00 waktu setempat.
Sebelumnya KPU sudah menetapkan aturan bahwa mantan terpidana kasus korupsi, kejahatan seks, dan narkoba dilarang mencalonkan diri.
Namun ketetapan ini banyak ditentang kalangan partai, yang kemudian mengadu ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Bawaslu mengabulkan gugatan partai-partai itu, namun KPU bersikukuh pada ketetapan semula.
Akhirnya sejumlah politikus yang pernah terlibat korupsi mengugat ke Mahkamah Agung, dan MA mengabulkan gugatan mereka.

(sumber : Detik.com).

Profil Provinsi Banten

Berdiri : 17 Oktober 2000.

Dasar Hukum : UU.NO.23/2000.

Letak : Pulau Jawa (5ºLS - 8ºLS dan 105º - 107º BT).

Tanda Plat Nomor Kendaraan : A (Banten), B (Tangerang).

Luas Wilayah : 8.800.83 km².

Bandar Udara : Soekarno Hatta (Soetta).

Pelabuhan Laut : Merak.

Pahlawan : Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya, dll.

Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Islam Negeri (UIN).

Makanan Khas Daerah : Bubur Ayam Banten, Angeun Lada, Nasi Sumsum, Balok Menes, Gemblong, Emping, dll.

Obyek Wisata : Taman Nasional Ujung Kulon, Panter Anyer, Gunung Krakatau, Pulau Shangyang, Pulau Sabesi, Tanjung Lesung, Situs Arkeologi Banten Lama, Pantai Carita, Pantai Karang Bolong, Pantai Sawarna, Pantai Karang Taraje, Rawa Dano, dll.

Peninggalan Sejarah :
-          Prasasti Lebak (Banten Selatan).
-          Benteng Inong Bale (Banten).
-          Benteng Surasoan (Banten).

Industri dan Pertambangan : Minyak, Baja, Pipa Asbes, Semen Aneka Industri (Tangerang).

Tarian Tradisional : Tari Topeng.

Rumah Adat : Rumah Badui.

Senjata Tradisional : Kujang dan Golok.

Lagu Daerah : Dayung Sampan.

Suku : Baduy, Sunda, Banten.

Bahasa Daerah : Sunda, Banyumasan, Jawa.

Pakaian Adat : Pakaian Pengantin.

Identitas Daerah :
1.      Flora : Kokoleceran (Vatica Bantamensis).
2.      Fauna : Badak Jawa (Rhinocerus Sondaicus).

Alat Musik Tradisional : Gendang, Terbang Gede, Angklung Buhun.

(sumber : http://indoborneonatural.blogspot.com/2013/01/nama-dan-profil-lengkap-provinsi-banten.html).




Rumah kebaya

Rumah adat Betawi yang satu ini memiliki ciri khas atap seperti pelana yang dilipat. Jika atap rumah dilihat dari samping maka atap akan terlihat seperti lipatan kebaya. Dari situlah mengapa rumah ini diberi nama rumah Kebaya. Selain itu pada rumah kebaya juga terdapat ruangan-ruangan dengan berbagai fungsi.

Fungsi Ruangan Pada Rumah Kebaya
Rumah kebaya memiliki beberapa ruangan-ruangan seperti rumah pada umumnya. Setiap ruangan mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Berikut adalah ruangan-ruangan pada rumah kebaya beserta fungsinya:
1.   Paseban.
    Ruangan ini berbentuk seperti kamar yang digunakan untuk menginap para tamu. Jika ada saudara atau teman yang berkunjung kemudian menginap, maka mereka akan di tempatkan di ruangan ini. Jika sedang tidak ada tamu, ruangan ini biasanya digunakan untuk shalat.
2.   Teras.
     Ciri khas dari rumah kebaya adalah teras yang luas. Biasanya terdapat meja dan kursi yang berfungsi untuk bersantai dan beristirahat bersama keluarga. Selain itu tempat ini juga digunakan untuk menerima tamu.
3.   Ruang Tempat Tidur.
   Seperti rumah pada umumnya rumah kebaya juga memiliki ruangan untuk tidur. Rumah kebaya ini memiliki 4 ruangan tidur. Pemilik rumah biasanya menempati kamar dengan ukuran paling besar.
4.   Pangkeng.
   Ruangan ini adalah ruangan bersantai untuk keluarga pada malam hari. Ruangan ini biasanya digunakan untuk sekedar bersenda gurau para anggota keluarga. Suasana keakraban anggota keluarga menjadi semakin hangat dan dekat.
5.   Srondoyan.
    Ruangan ini biasa disebut dapur. Biasanya terletak di bagian paling belakang dan jadi satu dengan ruang makan. Seperti pada umumnya ruangan ini digunakan untuk mengolah masakan.

Material Untuk Membangun Rumah Kebaya
1. Material Atap
Atap dari rumah kebaya ini terbuat dari genteng tanah liat. Tetapi ada juga yang terbuat dari anyaman daun kirai atau yang sering disebut atep. Untuk kontruksi kuda-kuda dan gording menggunakan kayu gowok atau kayu kecapi.
Reng sebagai dudukan atap genteng, terbuat dari bambu yang dibelah. Sedangkan kaso berfungsi untuk dudukan reng terbuat dari bambu utuh. Pemasangan reng dan kaso menggunakan bambu tali, yaitu dengan bambu yang dibelah kemudian dijadikan tali.
2. Material Dinding
Kayu yang digunakan untuk material dinding depan adalah kayu gowok atau kayu nangka, biasanya di cat dengan warna cerah seperti warna hijau atau warna kuning. Sedangkan untuk dinding lainnya menggunakan anyaman dari bambu. Daun pintu dan jendela untuk rumah kebaya berukuran besar.
Pada daun pintu terdapat jalusi (lubang udara) agar udara dalam ruangan selalu berganti. Hal ini bertujuan agar udara dalam ruangan tetap segar dan sirkulasi udara tetap terjaga. Sehingga penghuni rumah merasa nyaman.
3. Material Struktur
Pondasi pada rumah kebaya terbuat dari susunan batu kali dengan sistem umpak. Sedangkan untuk landasan dinding menggunakan pasangan batu bata. Untuk kolom-kolom bangunan rumah ini terbuat dari kayu nangka.

Nilai Filosofis Rumah Kebaya
Rumah kebaya memiliki teras yang luas disertai meja dan kursi, hal ini memiliki nilai filosofis tersendiri. Ruang teras tersebut mengandung arti bahwa orang Betawi senantiasa terbuka. Selalu menghargai tamu yang datang.
Orang Betawi tidak membeda-bedakan, siapapun orang yang datang bertamu tetap akan di terima dengan ramah. Walaupun berbeda keyakinan berbeda suku, orang Betawi tetap menerima dan menjamu tamu seperti hal nya tamu lain. Orang Betawi memiliki semangat menerima perbedaan keragaman etnis.
Rumah Kebaya biasanya dilengkapi dengan pagar yang mengelilingi rumah. Ini artinya walaupun orang betawi terbuka, mereka tetap memiliki batas. Mereka dapat membedakan mana hal yang positif dan mana hal yang negatif.
Saat ini banyak sekali kebudayaan luar yang masuk ke Negeri kita, semakin lama jika dibiarkan kebudayaan kita akan luntur bahkan hilang. Jika tidak hati-hati semakin lama kebudayaan asli Indonesia akan hilang. Menurut filosofi di atas, orang Betawi akan tetap menerima kebudayaan yang baik dan meninggalkan kebudayaan yang buruk.
(Sumber: https://www.romadecade.org/rumah-adat-betawi/#)


Cinta Tanah Air

Jika kita mendengar atau membaca kalimat ‘cinta tanah air’, hal apakah yang terlintas pertama kali di benak kita? Apakah kita berpikir mengenai kecintaan kita terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan menimbulkan suatu ikatan ini? Atau yang di luar pemikiran kita pada umumnya yaitu kecintaan kita terhadap tanah dan air, dalam konteks ini kita hanya mencintai tanah dan air, dimana tanah dan air yang dimaksudkan adalah materi atau unsur tanah dan air yang ada di seluruh belahan bumi. Tentu saja kebanyakan dari kita mengartikan kalimat cinta tanah air seperti kecintaan kita terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan menimbulkan suatu ikatan.

Cinta tanah air yang sesungguhnya memberikan sebuah wawasan yang luas bagi kita dalam menyikapi sebuah realita berupa kekayaan, keberagaman, dan kekhasan yang dimiliki negeri kita tercinta ini, Indonesia. Kita sering mendengar kalimat yang berbunyi ‘sejengkal tanah pun di negeri ini harus kita jaga’. Kalimat ini hampir memiliki makna yang sama dengan pemikiran mengenai kecintaan kita hanya pada materi atau unsur tanah dan air yang ada di muka bumi. Namun sesungguhnya makna dari kalimat tersebut sangatlah luas, tidak hanya melulu soal kecintaan kita pada unsur atau materi dalam sejengkal tanah yang dimaksud. Pertama, kita harus menjaga sejengkal tanah pun di negeri kita ini dari upaya klaim maupun tindakan- tindakan yang merugikan yang dilakukan oleh negara lain. Selanjutnya kita sebagai warga negara Indonesia, apalagi di negeri sendiri, juga tidak bisa seenaknya memperlakukan sejengkal tanah pun yang dijadikan sebagai perumpamaan di atas. "ita tidak diperkenankan merusak aset-aset yang terdapat di atas tanah tersebut, baik merusak secara fisik maupun merusak kehidupan sosio-kultural yang telah bertumbuh di atasnya.

Masih ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencintai tanahair kita ini, !ndonesia. Sebagai insan yang memiliki kesadaran sebagai warga negara yang baik, tentunya rasa akan cinta tanah air tersebut akan tumbuh secara alami tanpa adanya paksaan dari pihak-pihak lain. Rasa ini akan tumbuh sebagai sebuah kebanggaan, pengorbanan, dan penghormatan tertinggi bagi negeri kita tercinta yaitu !ndonesia.
Ada banyak figur yang dapat dijadikan contoh atau panutan bagi kita terutama dalam hal mencintai tanah air. Salah satunya yang tentu tidak asing lagi di telinga kita adalah sang bapak  pahlawan pendidikan, yaitu Ki Hajar Dewantara.

Sedikit pengetahuan saja, Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dan berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Sebelum berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, beliau memiliki nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Namun, saat genap berusia 12 tahun menurut hitungan tahun Caka, beliau mengubah nama menjadi Ki Hajar Dewantara tersebut. Tahukah alasan beliau mengganti nama tersebut? Alasannya cukup sederhana namun memiliki makna. Beliau menggantinya agar tidak ada lagi gelar bangsawan dalam namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dari hal sepele seperti pergantian nama pun beliau cukup memperlihatkan karakternya yang merakyat sekalipun beliau seorang bangsawan. Karakter merakyat ini pula yang mencerminkan bahwa beliau adalah seorang tokoh yang mencintai tanahairnya atau nasionalis.
Bersama rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar Dewantara berusaha menciptakan pendidikan yang mampu dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat. Usaha tersebut di wujudkannya dengan mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa peserta didik.

Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari “strategi” untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Adapun logika berpikirnya relatif sederhana, apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi.

Pernyataan asas dari Taman Siswa berisi tujuh pasal yang memperlihatkan bagaimana pendidikan itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi serasi, terikat erat kepada milik budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan dalam hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan peniruan yang membuta. Selain itu anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan negara.

Dari gambaran sekilas cukup terlihat bahwa Ki Hajar Dewantara adalah sosok nasionalis yang sejati. Kita dapat sedikit melihat buah-buah pemikiran yang didasari kecintaannya pada tanah air yang salah satunya beliau tuangkan dalam asas Taman Siswa yang berisi tujuh pasal. Dimana di dalamnya dijelaskan agar anak-anak berkembang menjadi merdeka dan serasi, terikat dengan kebudayaan milik sendiri sehingga terhindar dari pengaruh buruk dan tekananyang diciptakan oleh rezim kolonial. Serta yang terpenting adalah anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, demi menanamkan rasa pengabdian kepada bangsadan negara.

Dari Ki Hajar Dewantara, kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga pernah memiliki seorang tokoh sekaligus pahlawan pendidikan yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Lantas sebagai penghargaan kepada beliau, apakah kita hanya berbangga saja? Tentu saja tidak. Namun untuk menjadi seorang insan yang memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi, kita juga tidak diharuskan untuk menjadi sama persis seperti Ki Hajar Dewantara. Kita cukup menjadikan karya-karya ataupun buah-buah pemikirannya semasa hidup sebagai referensi bagi kita dalam pengembangan diri untuk menjadi seorang insan yang cinta tanah air.

Rasa kecintaaan terhadap tanah air menjadi hal yang mutlak bagi setiap warga negara Indonesia. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan guna memupuk rasa kecintaan kita terhadap tanah air. Kita dapat berkembang dalam berbagai bidang dengan dilandasi asas cinta tanah air. Kita tidak harus menjadi sama persis seperti bangsa-bangsa lain yang sudah tergolong maju. Kita dapat menjadikan bangsa lain tersebut sebagai referensi kemajuan. Namun pada akhirnya, dengan dilandasi rasa cinta tanah air yang tulus dan total kita harus menjadi bangsa yang maju dalam berbagai bidang dengan gaya kita sendiri.

(sumber : https://www.academia.edu/11583251/Cinta_Tanah_Air).

Kamis, 15 November 2018


TUGAS TIPOLOGI BANGUNAN
TIPOLOGI LANGGAM BANGUNAN MASA KOLONIAL

 

CHANDRA RIFQI PRAMESTA
21317319
2TB02

I.Pendahuluan
Pengertian Arsitektur Kolonial
Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara. Seiring berkembangnya peran dan kuasa, kamp-kamp Eropa semakin dominan dan permanen hingga akhirnya berhasil berekspansi dan mendatangkan tipologi baru. Semangat modernisasi dan globalisasi (khususnya pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan bangunan modern seperti administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer. Bangunan – bangunan inilah yang disebut dikenal dengan bangunan kolonial.

Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia
Sejarah mencatat, bahwa bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia adalah Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya kedatangan mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan pemukimannya di beberapa kota di Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pelabuhan. Dinding rumah mereka terbuat dari kayu dan papan dengan penutup atap ijuk. Namun karena sering terjadi konflik mulailah dibangun benteng. Hampir di setiap kota besar di Indonesia. 

Dalam benteng tersebut, mulailah bangsa Eropa membangun beberapa bangunan dari bahan batu bata. Batu bata dan para tukang didatangkan dari negara Eropa. Mereka membangun banyak rumah, gereja dan bangunan-bangunan umum lainnya dengan bentuk tata kota dan arsitektur yang sama persis dengan negara asal mereka. Dari era ini pulalah mulai berkembang arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Setelah memiliki pengalaman yang cukup dalam membangun rumah dan bangunan di daerah tropis lembab, maka mereka mulai memodifikasi bangunan mereka dengan bentuk-bentuk yang lebih tepat dan dapat meningkatkan kenyamanan di dalam bangunan.


II.Bangunan kolonial
Salah satu contoh bangunan kolonial di Indonesia adalah Museum Bank Indonesia.

MUSEUM BANK INDONESIA
Bank Indonesia (BI) adalah bank sentral Republik Indonesia. Bank ini memiliki nama lain De Javasche Bank yang dipergunakan pada masa Hindia Belanda. Sebagai bank sentral, BI mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdkkNW653CfV_uAj5ybx6bhAa0tATCr0gK9RM1uwRQib2Xgyz2UgfYcGCwezI8lfgGcJ2FDR_nTIGK1hk24ICFuf9J8iIzGHvm0R9Mz0m8pnIryyDwW1R2231ndm-jl-5KImiwQyynEP4/s400/untuk-edukasi-masyarakat-seputar-keuangan.jpg

Sejarah
Bangunan Museum Bank Indonesia di kawasan Kota merupakan gedung bekas De Javasche Bank (DJB). Dahulunya gedung ini adalah sebuah rumah sakit yang dikenal dengan nama Binnen Hospital. pertama kali digunakan oleh DJB sejak 8 April 1828.
Kemudian pada tahun 1910, atau lebih dari 80 tahun setelah menempati gedung tua bekas rumah sakit ini, DJB mulai membangun kembali gedung ini. Perancangan bangunan dikerjakan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.

Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1912 merupakan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang Binneninieuwpoorstraat, kini Jalan Pintu Besar Utara. Pada tahun 1922, pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti ruang simpan barang berharga (kluis), ruang arsip, ruang pertemuan besar (ruang hijau), rumah penjaga gedung (concierge) dan garasi.

Pembangunan tahap ketiga dilakukan pada tahun 1924, merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Selain itu, dibuat pula bangunan di sepanjang Javabankstraat, kini jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan baru ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang sangat indah.

Tahun 1933, pembangunan tahap keempat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan kali ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat. Renovasi juga dilakukan di bagian muka di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.

Pembangunan tahap kelima dilakuka pada tahun 1935 untuk memodernisasi arsitektur tahap pertama. Selain menganut satu pintu keluar-masuk untuk menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya. Tahap ini juga menghilangkan kubah yang semula menghiasi atap gedung. Pembangunan ini selesai dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Pembangunan tahap kelima merupakan tahap terakhir dari rangkaian pembangunan gedung DJB. Selama Bank Indonesia menempati bangunan ini, tidak banyak perubahan yang dilakukan. 








DESAIN

https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/de-javasche-bank-te-batavia-19201.jpg?w=545

Bangunan Javasche Bank ini menganut gaya bangunan pada masa Renaisance. Ciri-ciri ini terlihat dari dekorasi bangunan. Tampak pula gaya renaissance pada pattern dinding bagian bawah yang dibuat bergaris-garis layaknya dinding-dinding dengan batu  bata (masonry).
https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/img_0612.jpg?w=545
Denah lantai 1

https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/img_0613.jpg?w=545
Denah lantai 2
https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/dsc-1954.jpg?w=545

Pada gambar diatas terlihat adanya minarate yang menunjukkan ciri khas bangunan masa kolonial. Bangunan ini menggunaan tritisan untuk mengurangi tampias air hujan dan Bukaannya juga terlihat begitu lebar sehingga mendukung sirkulasi udara ke dalam bangunan. Kebanyakan bangunan sekarang cahaya matahari atau tampiasan air hujan langsung kedalam bangunan lewat jendela/bukaan  dihalangi oleh katakanlah semacam sorsoran yang menjorok ke keluar bangunan akan tetapi pada bangunan ini justru bagian jendelanya yang dibuat mundur atau menjorok ke dalam.
https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/hgf.png?w=545
Pada gambar tampak diatas terdapat Dormer ditata dengan rapih disepanjang atap. dormer ini disebut sebagai lantern dimana fungsinya sebagai sirkulasi cahaya maupun udara. Dibagian tengah-tengah gambar tampak diatas Terdapat menara jam yang lazim berada pada bangunan penting pada zaman kolonial.
https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/bagian-dalam-javasche-bank1.jpg?w=545

Bangunan ini menggunakan relief bergaya campuran dari candi borobudur dan gaya klasik eropa, menurut informasi yang saya dapatkan bangunan Javasche bank batavia ini adalah bangunan gaya klasik eropa pertama sehindia belanda yang menggunakan campuran gaya dekorasi daerah setempat/lokal. Kolom-kolom pada bangunan ini menggunakan yunani doric.
https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/kaca-patri-javasche-bank1.jpg?w=545
Gambar di atas adalah gambar kaca patri. Kaca-kaca patri di gedung ini dipesan dari studio Jan Schouten, Delft, Belanda—diperkirakan pada sekitar 1922, 1924, dan 1935, ketika gedung ini dibangun. Karena dirawat dengan hati-hati, sampai saat ini kondisi kaca-kaca patri ini masih baik. Kaca patri ini adalah kaca yang dilukis dan diberi warna dengan cara dibakar hingga 1.100°C agar mendapat kualitas warna yang terbaik. Setelah diwarnai, kaca tersebut dirangkai menjadi beragam motif dengan menggunakan patrian timah. Motif lukisan kaca patri di gedung ini kebanyakan mewakili berbagai aspek seputar perdagangan dan kehidupan di Hindia Belanda.
https://dekdun.files.wordpress.com/2011/05/kaca-patri.jpg?w=545
Kaca patri di lobi ini terdiri dari tiga bagian. Di baris paling atas, sebelah kiri, menunjukkan seorang dewi berlambang kota Batavia (sebagai tempat berdirinya De Javasche Bank); dan di sebelah kanan menunjukkan seorang dewi berlambang kota Surabaya. Kaca-kaca patri di baris tengah menggambarkan berbagai kegiatan seni, seperti menyanyi, fotografi, drama, mematung, pembuatan film dan keramik. Pada baris terbawah, digambarkan berbagai aktivitas masyarakat Hindia Belanda kala itu. Dua yang paling kiri menggambarkan kegiatan bertenak dan bertani; di tengah menunjukkan dua kapal—kapal bermesin uap dan kapal layar—yang melaut mengangkut kekayaan Nusantara; dan dua yang paling kanan menggambarkan kegiatan panen dan membatik.
Ilustraasi Kasus

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-ET6OJF0jKyGU6Jo8LUEabKYpNAHYX6MX1fVibXpQvHpaqnyr8t4eLvvX9LCqWwQwseLtveDLvWXAuPF89nObk2p8yHTCYsSOB4lpvJsj_aLgwDH5hkP9JURASELddC1L3tl8TM4aUiQ/s640/Picture7.jpg

Merupakan denah lantai 1 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruang diantaranya :
1.  Pintu masuk belakang
2.  Ruang serba guna
3.  Ruang gelar budaya
4.  uang jeda
5.  Ruang penerbitan & pengedaran uang









Ruang Perpustakaan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNpRPfJQv0cd6lNCCKyUgjZCDql4rMolbyhMAKtkbTuKvIPqHIW2W1I5vfS5IXKv59SitiP5ARiND-en7r6AnrV_2zPpJB4KSYY-PZ6FRlUYFwBwoFy666K1UN-Z49jyGBjvVjKhDlb_U/s640/Picture8.jpg

Merupakan denah lantai 2 Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruangan diantaranya :
1.                     Pintu Masuk Utama
2.                     Ruang Penitipan Barang
3.                     Ruang Manager
4.                     Ruang Lobby Hall & Loket
5.                     Ruang Pelayanan Pengunjung
6.                     Ruang Peralihan
7.                     Ruang Theater
8.                     Ruang Informasi BI
9.                     Ruang Sejarah Pra BI
10.                Ruang Sejarah BI Periode -1
11.                Ruang Sejarah BI Periode -2
12.                Ruang Sejarah BI Periode -3
13.                Ruang Sejarah BI Periode -4
14.                Ruang Sejarah BI Periode -5
15.                Ruang Sejarah BI Periode _6
16.                Ruang Jeda & Children Comer
17.                Ruang Direktur
18.                Ruang Gubernur
19.                Ruang Meeting
20.                Ruang Gelar Budaya
21.                Ruang Inspirasi
22.                Ruang Jeda & Children comer
23.                Ruang Numismatik
24.                Ruang BI Future
25.                Ruang Kerja
26.                Ruang Emas
27.                Ruang Souvenir


Fasilitas 
Museum BI beroperasi secara penuh pada tahun 2008. Museum Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas-fasilitas berikut:


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF3Ylj1cs78PmkVwgODWO3vWEmzkXPyQkLKfCmwjj78lyzV0WIJrZfkKqXBRzs_wuE5gR4ZhkYpgetXZltc_2cA0qw7-dx6EKiReqPsIdK7LJlmdhw_GY47IxJI5Cu6hnxeSektkF6s7c/s1600/Picture10.jpg

Ruang Penitipan Barang, disediakan bagi pengunjung yang hendak menitipkan barang-barangnya selama berkunjung ke Museum Bank Indonesia.

Pusat Informasi Bank Indonesia, dalam ruangan ini pengunjung akan dibanjiri dengan berbagai informasi dari masa lalu hingga masa kini dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan peran Bank Indonesia. Informasi tersebut dapat diakses menggunakan perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya.
Di samping informasi yang berasal dari Bank Indonesia, juga dapat diakses informasi dari beberapa sumber lain, dalam dan luar negeri. Disediakan pula fasilitas untuk mencetak (printing) data/informasi dari komputer. Kelengkapan informasi dalam ruangan ini masih ditambah dengan hadirnya BI Virtual Museum, yang akan memberikan informasi tentang Museum Bank Indonesia melalui jaringan internet. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4MdgaksR_InfHlk5LuMzCbTIMGJhyphenhyphenOH-1VDGVDM3Rkfahoh49z7I7vxZMr0ZS-ATChLlKuJ9ufsC62SCl7CCnmoqPmIMdatVZWMGeI5x9aGeymJtXEesFxzBhVVrLz2NK_0ndqXA9TGA/s320/Picture9.jpg

Ruang Auditorium, terletak di lantai 2 Museum Bank Indonesia berdekatan dengan pusat informasi BI (BI Information Center). Ruangan ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ceramah/seminar/diskusi, baik yang disponsori oleh Bank Indonesia maupun pihak luar.

Kios Buku dan Cenderamata, pengunjung dapat memperoleh berbagai hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.

Banking Expo, fungsi pembinaan bank yang diemban oleh Bank Indonesia, dapat direpresentasikan dalam ruang banking expo. Dalam ruangan ini, bank-bank dapat mempromosikan produk-produk terbarunya, sehingga pengunjung dapat membandingkan keunggulan dari setiap bank. Jadi, para pengunjung tidak hanya disuguhi sejarah perbankan di dalam ruang pamer, tetapi sekaligus dapat bertransaksi secara langsung.

Ruang Serbaguna, salah satu keunggulan Museum Bank Indonesia adalah terdapatnya beberapa ruangan yang dapat digunakan untuk kepentingan pengunjung. Salah satunya adalah ruang serbaguna yang terletak di lantai 1. Ruangan ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk berbagai keperluan, seperti resepsi pernikahan, rapat besar, dan lain-lain. Perpaduan pesta modern di tengah-tengah nuansa sejarah akan menjadikan pesta yang diselenggarakan semakin berkesan. 
Cafe Museum, merupakan salah satu unsur modernisasi yang dihadirkan oleh Museum Bank Indonesia. Di tempat ini, pengunjung dapat beristirahat sekaligus menikmati makanan dan minuman yang lezat, lengkap dengan bacaan berupa harian dan majalah yang khusus mengupas masalah ekonomi, bisnis, dan perbankan. Ditambah lagi dengan adanya beberapa televisi yang menayangkan program-program yang berkaitan dengan ekonomi, bisnis, dan perbankan, sehingga sangat cocok untuk perjamuan ringan dengan relasi bisnis di siang hari.

Fine Dining Restaurant, berbeda dengan cafe museum yang menawarkan nuansa santai, fine dining restaurant, menawarkan suasana yang lebih eksklusif. Suasana ini akan semakin terasa pada malam hari di area inner court dan outeryard.

Perpustakaan, merupakan salah satu fasilitas unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di Museum Bank Indonesia, yaitu: perpustakaan untuk para peneliti museum dan perpustakaan untuk umum. Kedua perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.

Pertokoan, walaupun sarat dengan unsur edukasi, Museum Bank Indonesia juga menyajikan nuansa hiburan, yang diantaranya diwakili dengan jejeran pertokoan yang terletak di lantai 1. Ruang pertokoan ini menjual berbagai macam barang eksklusif, misalnya boutique.

Masjid, Museum Bank Indonesia menyediakan sarana ibadah berupa masjid yang terletak di dalam lingkungan museum.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxjG2l-OQMq4ZEJQ9AIVpIVJGjvoSs0zMsuEZhQEjhvrelhVnYwbyvd5hZYE9c0BvYC06EUdHnJVqzkdmv22o4e8S2qFORks7O4kcwlLzf8EV5BJU53m8_A3MMYvcDC1kjk5rrYaUsqSM/s1600/Picture3.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOG2DNJg_BZGNYclFqnOgBD9fZDB702u7mzsHNnAL_Rtv4U-KQxpL9mvtR5elsHq_0d6c8VzuhyphenhyphenlzwI0ZcZcS2vyQ372isIvKFNkXBKrXsDQl4CATVxGipFV4sCreeddn5GwB0IAQ3n78/s1600/Picture2.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisyULLzUrNV2u3wAIR6n8lX6fTDOHXkCvY0mMZ9Sxp3rSYlp7aDw25UGHSVFeS8j_J5Wl77b0J4VWe-bMQiBDIMr8wS2p03W2IxBDiFR7gFOGZ-0Z4ppWvD4z9xqBcPg1wFLB_ufN3E58/s1600/Picture4.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRa3LhEYhALxCb_hqCK8-RvnDxMmF_KYZWb3O5UzQy6nltbZiWDqD-qDp8n_i7e8F5dYjw8HtA153UGKW7eeBBk55IMybRfazlWt5TCyNZlLoI9cuvJE53XZWS03EUdCgozDUjzvGxnDk/s320/Picture9.jpg

DAFTAR PUSTAKA