Sabtu, 15 Juni 2019


Serba – serbi pemilu 2019

Pemilu 2019 kali ini melaksanakan pemilihan secara serentak mulai dari calon anggota legislatif (caleg) tingkat kota/kabupaten, provinsi, pusat, perwakilan daerah, hingga pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Puluhan ribu caleg telah terdaftar dalam 20 partai politik yakni 16 parpol tingkat nasional, dan empat parpol lokal tambahan khusus untuk di Provinsi Aceh.
Seluruh caleg akan bertarung untuk memperebutkan 17.610 kursi anggota DPRD tingkat kabupaten/kota, 2.207 kursi anggota DPRD tingkat provinsi, 575 kursi anggota DPR RI, dan 136 kursi anggota DPD.
Pemilih yang telah terdaftar di dalam Daftar Pemilih (DPT/DPTb/DPK), dapat menyalurkan suaranya dengan membawa Formulir C6 dan datang ke Tempat Pemungutan Suara yang telah ditentukan mulai pukul 07.00 - 13.00 waktu setempat.
Sebelumnya KPU sudah menetapkan aturan bahwa mantan terpidana kasus korupsi, kejahatan seks, dan narkoba dilarang mencalonkan diri.
Namun ketetapan ini banyak ditentang kalangan partai, yang kemudian mengadu ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Bawaslu mengabulkan gugatan partai-partai itu, namun KPU bersikukuh pada ketetapan semula.
Akhirnya sejumlah politikus yang pernah terlibat korupsi mengugat ke Mahkamah Agung, dan MA mengabulkan gugatan mereka.

(sumber : Detik.com).

Profil Provinsi Banten

Berdiri : 17 Oktober 2000.

Dasar Hukum : UU.NO.23/2000.

Letak : Pulau Jawa (5ºLS - 8ºLS dan 105º - 107º BT).

Tanda Plat Nomor Kendaraan : A (Banten), B (Tangerang).

Luas Wilayah : 8.800.83 km².

Bandar Udara : Soekarno Hatta (Soetta).

Pelabuhan Laut : Merak.

Pahlawan : Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya, dll.

Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Islam Negeri (UIN).

Makanan Khas Daerah : Bubur Ayam Banten, Angeun Lada, Nasi Sumsum, Balok Menes, Gemblong, Emping, dll.

Obyek Wisata : Taman Nasional Ujung Kulon, Panter Anyer, Gunung Krakatau, Pulau Shangyang, Pulau Sabesi, Tanjung Lesung, Situs Arkeologi Banten Lama, Pantai Carita, Pantai Karang Bolong, Pantai Sawarna, Pantai Karang Taraje, Rawa Dano, dll.

Peninggalan Sejarah :
-          Prasasti Lebak (Banten Selatan).
-          Benteng Inong Bale (Banten).
-          Benteng Surasoan (Banten).

Industri dan Pertambangan : Minyak, Baja, Pipa Asbes, Semen Aneka Industri (Tangerang).

Tarian Tradisional : Tari Topeng.

Rumah Adat : Rumah Badui.

Senjata Tradisional : Kujang dan Golok.

Lagu Daerah : Dayung Sampan.

Suku : Baduy, Sunda, Banten.

Bahasa Daerah : Sunda, Banyumasan, Jawa.

Pakaian Adat : Pakaian Pengantin.

Identitas Daerah :
1.      Flora : Kokoleceran (Vatica Bantamensis).
2.      Fauna : Badak Jawa (Rhinocerus Sondaicus).

Alat Musik Tradisional : Gendang, Terbang Gede, Angklung Buhun.

(sumber : http://indoborneonatural.blogspot.com/2013/01/nama-dan-profil-lengkap-provinsi-banten.html).




Rumah kebaya

Rumah adat Betawi yang satu ini memiliki ciri khas atap seperti pelana yang dilipat. Jika atap rumah dilihat dari samping maka atap akan terlihat seperti lipatan kebaya. Dari situlah mengapa rumah ini diberi nama rumah Kebaya. Selain itu pada rumah kebaya juga terdapat ruangan-ruangan dengan berbagai fungsi.

Fungsi Ruangan Pada Rumah Kebaya
Rumah kebaya memiliki beberapa ruangan-ruangan seperti rumah pada umumnya. Setiap ruangan mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Berikut adalah ruangan-ruangan pada rumah kebaya beserta fungsinya:
1.   Paseban.
    Ruangan ini berbentuk seperti kamar yang digunakan untuk menginap para tamu. Jika ada saudara atau teman yang berkunjung kemudian menginap, maka mereka akan di tempatkan di ruangan ini. Jika sedang tidak ada tamu, ruangan ini biasanya digunakan untuk shalat.
2.   Teras.
     Ciri khas dari rumah kebaya adalah teras yang luas. Biasanya terdapat meja dan kursi yang berfungsi untuk bersantai dan beristirahat bersama keluarga. Selain itu tempat ini juga digunakan untuk menerima tamu.
3.   Ruang Tempat Tidur.
   Seperti rumah pada umumnya rumah kebaya juga memiliki ruangan untuk tidur. Rumah kebaya ini memiliki 4 ruangan tidur. Pemilik rumah biasanya menempati kamar dengan ukuran paling besar.
4.   Pangkeng.
   Ruangan ini adalah ruangan bersantai untuk keluarga pada malam hari. Ruangan ini biasanya digunakan untuk sekedar bersenda gurau para anggota keluarga. Suasana keakraban anggota keluarga menjadi semakin hangat dan dekat.
5.   Srondoyan.
    Ruangan ini biasa disebut dapur. Biasanya terletak di bagian paling belakang dan jadi satu dengan ruang makan. Seperti pada umumnya ruangan ini digunakan untuk mengolah masakan.

Material Untuk Membangun Rumah Kebaya
1. Material Atap
Atap dari rumah kebaya ini terbuat dari genteng tanah liat. Tetapi ada juga yang terbuat dari anyaman daun kirai atau yang sering disebut atep. Untuk kontruksi kuda-kuda dan gording menggunakan kayu gowok atau kayu kecapi.
Reng sebagai dudukan atap genteng, terbuat dari bambu yang dibelah. Sedangkan kaso berfungsi untuk dudukan reng terbuat dari bambu utuh. Pemasangan reng dan kaso menggunakan bambu tali, yaitu dengan bambu yang dibelah kemudian dijadikan tali.
2. Material Dinding
Kayu yang digunakan untuk material dinding depan adalah kayu gowok atau kayu nangka, biasanya di cat dengan warna cerah seperti warna hijau atau warna kuning. Sedangkan untuk dinding lainnya menggunakan anyaman dari bambu. Daun pintu dan jendela untuk rumah kebaya berukuran besar.
Pada daun pintu terdapat jalusi (lubang udara) agar udara dalam ruangan selalu berganti. Hal ini bertujuan agar udara dalam ruangan tetap segar dan sirkulasi udara tetap terjaga. Sehingga penghuni rumah merasa nyaman.
3. Material Struktur
Pondasi pada rumah kebaya terbuat dari susunan batu kali dengan sistem umpak. Sedangkan untuk landasan dinding menggunakan pasangan batu bata. Untuk kolom-kolom bangunan rumah ini terbuat dari kayu nangka.

Nilai Filosofis Rumah Kebaya
Rumah kebaya memiliki teras yang luas disertai meja dan kursi, hal ini memiliki nilai filosofis tersendiri. Ruang teras tersebut mengandung arti bahwa orang Betawi senantiasa terbuka. Selalu menghargai tamu yang datang.
Orang Betawi tidak membeda-bedakan, siapapun orang yang datang bertamu tetap akan di terima dengan ramah. Walaupun berbeda keyakinan berbeda suku, orang Betawi tetap menerima dan menjamu tamu seperti hal nya tamu lain. Orang Betawi memiliki semangat menerima perbedaan keragaman etnis.
Rumah Kebaya biasanya dilengkapi dengan pagar yang mengelilingi rumah. Ini artinya walaupun orang betawi terbuka, mereka tetap memiliki batas. Mereka dapat membedakan mana hal yang positif dan mana hal yang negatif.
Saat ini banyak sekali kebudayaan luar yang masuk ke Negeri kita, semakin lama jika dibiarkan kebudayaan kita akan luntur bahkan hilang. Jika tidak hati-hati semakin lama kebudayaan asli Indonesia akan hilang. Menurut filosofi di atas, orang Betawi akan tetap menerima kebudayaan yang baik dan meninggalkan kebudayaan yang buruk.
(Sumber: https://www.romadecade.org/rumah-adat-betawi/#)


Cinta Tanah Air

Jika kita mendengar atau membaca kalimat ‘cinta tanah air’, hal apakah yang terlintas pertama kali di benak kita? Apakah kita berpikir mengenai kecintaan kita terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan menimbulkan suatu ikatan ini? Atau yang di luar pemikiran kita pada umumnya yaitu kecintaan kita terhadap tanah dan air, dalam konteks ini kita hanya mencintai tanah dan air, dimana tanah dan air yang dimaksudkan adalah materi atau unsur tanah dan air yang ada di seluruh belahan bumi. Tentu saja kebanyakan dari kita mengartikan kalimat cinta tanah air seperti kecintaan kita terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan menimbulkan suatu ikatan.

Cinta tanah air yang sesungguhnya memberikan sebuah wawasan yang luas bagi kita dalam menyikapi sebuah realita berupa kekayaan, keberagaman, dan kekhasan yang dimiliki negeri kita tercinta ini, Indonesia. Kita sering mendengar kalimat yang berbunyi ‘sejengkal tanah pun di negeri ini harus kita jaga’. Kalimat ini hampir memiliki makna yang sama dengan pemikiran mengenai kecintaan kita hanya pada materi atau unsur tanah dan air yang ada di muka bumi. Namun sesungguhnya makna dari kalimat tersebut sangatlah luas, tidak hanya melulu soal kecintaan kita pada unsur atau materi dalam sejengkal tanah yang dimaksud. Pertama, kita harus menjaga sejengkal tanah pun di negeri kita ini dari upaya klaim maupun tindakan- tindakan yang merugikan yang dilakukan oleh negara lain. Selanjutnya kita sebagai warga negara Indonesia, apalagi di negeri sendiri, juga tidak bisa seenaknya memperlakukan sejengkal tanah pun yang dijadikan sebagai perumpamaan di atas. "ita tidak diperkenankan merusak aset-aset yang terdapat di atas tanah tersebut, baik merusak secara fisik maupun merusak kehidupan sosio-kultural yang telah bertumbuh di atasnya.

Masih ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencintai tanahair kita ini, !ndonesia. Sebagai insan yang memiliki kesadaran sebagai warga negara yang baik, tentunya rasa akan cinta tanah air tersebut akan tumbuh secara alami tanpa adanya paksaan dari pihak-pihak lain. Rasa ini akan tumbuh sebagai sebuah kebanggaan, pengorbanan, dan penghormatan tertinggi bagi negeri kita tercinta yaitu !ndonesia.
Ada banyak figur yang dapat dijadikan contoh atau panutan bagi kita terutama dalam hal mencintai tanah air. Salah satunya yang tentu tidak asing lagi di telinga kita adalah sang bapak  pahlawan pendidikan, yaitu Ki Hajar Dewantara.

Sedikit pengetahuan saja, Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dan berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Sebelum berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, beliau memiliki nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Namun, saat genap berusia 12 tahun menurut hitungan tahun Caka, beliau mengubah nama menjadi Ki Hajar Dewantara tersebut. Tahukah alasan beliau mengganti nama tersebut? Alasannya cukup sederhana namun memiliki makna. Beliau menggantinya agar tidak ada lagi gelar bangsawan dalam namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dari hal sepele seperti pergantian nama pun beliau cukup memperlihatkan karakternya yang merakyat sekalipun beliau seorang bangsawan. Karakter merakyat ini pula yang mencerminkan bahwa beliau adalah seorang tokoh yang mencintai tanahairnya atau nasionalis.
Bersama rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar Dewantara berusaha menciptakan pendidikan yang mampu dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat. Usaha tersebut di wujudkannya dengan mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa peserta didik.

Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari “strategi” untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Adapun logika berpikirnya relatif sederhana, apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi.

Pernyataan asas dari Taman Siswa berisi tujuh pasal yang memperlihatkan bagaimana pendidikan itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi serasi, terikat erat kepada milik budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan dalam hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan peniruan yang membuta. Selain itu anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan negara.

Dari gambaran sekilas cukup terlihat bahwa Ki Hajar Dewantara adalah sosok nasionalis yang sejati. Kita dapat sedikit melihat buah-buah pemikiran yang didasari kecintaannya pada tanah air yang salah satunya beliau tuangkan dalam asas Taman Siswa yang berisi tujuh pasal. Dimana di dalamnya dijelaskan agar anak-anak berkembang menjadi merdeka dan serasi, terikat dengan kebudayaan milik sendiri sehingga terhindar dari pengaruh buruk dan tekananyang diciptakan oleh rezim kolonial. Serta yang terpenting adalah anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, demi menanamkan rasa pengabdian kepada bangsadan negara.

Dari Ki Hajar Dewantara, kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga pernah memiliki seorang tokoh sekaligus pahlawan pendidikan yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Lantas sebagai penghargaan kepada beliau, apakah kita hanya berbangga saja? Tentu saja tidak. Namun untuk menjadi seorang insan yang memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi, kita juga tidak diharuskan untuk menjadi sama persis seperti Ki Hajar Dewantara. Kita cukup menjadikan karya-karya ataupun buah-buah pemikirannya semasa hidup sebagai referensi bagi kita dalam pengembangan diri untuk menjadi seorang insan yang cinta tanah air.

Rasa kecintaaan terhadap tanah air menjadi hal yang mutlak bagi setiap warga negara Indonesia. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan guna memupuk rasa kecintaan kita terhadap tanah air. Kita dapat berkembang dalam berbagai bidang dengan dilandasi asas cinta tanah air. Kita tidak harus menjadi sama persis seperti bangsa-bangsa lain yang sudah tergolong maju. Kita dapat menjadikan bangsa lain tersebut sebagai referensi kemajuan. Namun pada akhirnya, dengan dilandasi rasa cinta tanah air yang tulus dan total kita harus menjadi bangsa yang maju dalam berbagai bidang dengan gaya kita sendiri.

(sumber : https://www.academia.edu/11583251/Cinta_Tanah_Air).