Sabtu, 15 Juni 2019


Cinta Tanah Air

Jika kita mendengar atau membaca kalimat ‘cinta tanah air’, hal apakah yang terlintas pertama kali di benak kita? Apakah kita berpikir mengenai kecintaan kita terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan menimbulkan suatu ikatan ini? Atau yang di luar pemikiran kita pada umumnya yaitu kecintaan kita terhadap tanah dan air, dalam konteks ini kita hanya mencintai tanah dan air, dimana tanah dan air yang dimaksudkan adalah materi atau unsur tanah dan air yang ada di seluruh belahan bumi. Tentu saja kebanyakan dari kita mengartikan kalimat cinta tanah air seperti kecintaan kita terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan menimbulkan suatu ikatan.

Cinta tanah air yang sesungguhnya memberikan sebuah wawasan yang luas bagi kita dalam menyikapi sebuah realita berupa kekayaan, keberagaman, dan kekhasan yang dimiliki negeri kita tercinta ini, Indonesia. Kita sering mendengar kalimat yang berbunyi ‘sejengkal tanah pun di negeri ini harus kita jaga’. Kalimat ini hampir memiliki makna yang sama dengan pemikiran mengenai kecintaan kita hanya pada materi atau unsur tanah dan air yang ada di muka bumi. Namun sesungguhnya makna dari kalimat tersebut sangatlah luas, tidak hanya melulu soal kecintaan kita pada unsur atau materi dalam sejengkal tanah yang dimaksud. Pertama, kita harus menjaga sejengkal tanah pun di negeri kita ini dari upaya klaim maupun tindakan- tindakan yang merugikan yang dilakukan oleh negara lain. Selanjutnya kita sebagai warga negara Indonesia, apalagi di negeri sendiri, juga tidak bisa seenaknya memperlakukan sejengkal tanah pun yang dijadikan sebagai perumpamaan di atas. "ita tidak diperkenankan merusak aset-aset yang terdapat di atas tanah tersebut, baik merusak secara fisik maupun merusak kehidupan sosio-kultural yang telah bertumbuh di atasnya.

Masih ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencintai tanahair kita ini, !ndonesia. Sebagai insan yang memiliki kesadaran sebagai warga negara yang baik, tentunya rasa akan cinta tanah air tersebut akan tumbuh secara alami tanpa adanya paksaan dari pihak-pihak lain. Rasa ini akan tumbuh sebagai sebuah kebanggaan, pengorbanan, dan penghormatan tertinggi bagi negeri kita tercinta yaitu !ndonesia.
Ada banyak figur yang dapat dijadikan contoh atau panutan bagi kita terutama dalam hal mencintai tanah air. Salah satunya yang tentu tidak asing lagi di telinga kita adalah sang bapak  pahlawan pendidikan, yaitu Ki Hajar Dewantara.

Sedikit pengetahuan saja, Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dan berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Sebelum berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, beliau memiliki nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Namun, saat genap berusia 12 tahun menurut hitungan tahun Caka, beliau mengubah nama menjadi Ki Hajar Dewantara tersebut. Tahukah alasan beliau mengganti nama tersebut? Alasannya cukup sederhana namun memiliki makna. Beliau menggantinya agar tidak ada lagi gelar bangsawan dalam namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dari hal sepele seperti pergantian nama pun beliau cukup memperlihatkan karakternya yang merakyat sekalipun beliau seorang bangsawan. Karakter merakyat ini pula yang mencerminkan bahwa beliau adalah seorang tokoh yang mencintai tanahairnya atau nasionalis.
Bersama rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar Dewantara berusaha menciptakan pendidikan yang mampu dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat. Usaha tersebut di wujudkannya dengan mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa peserta didik.

Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari “strategi” untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Adapun logika berpikirnya relatif sederhana, apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi.

Pernyataan asas dari Taman Siswa berisi tujuh pasal yang memperlihatkan bagaimana pendidikan itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi serasi, terikat erat kepada milik budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan dalam hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan peniruan yang membuta. Selain itu anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan negara.

Dari gambaran sekilas cukup terlihat bahwa Ki Hajar Dewantara adalah sosok nasionalis yang sejati. Kita dapat sedikit melihat buah-buah pemikiran yang didasari kecintaannya pada tanah air yang salah satunya beliau tuangkan dalam asas Taman Siswa yang berisi tujuh pasal. Dimana di dalamnya dijelaskan agar anak-anak berkembang menjadi merdeka dan serasi, terikat dengan kebudayaan milik sendiri sehingga terhindar dari pengaruh buruk dan tekananyang diciptakan oleh rezim kolonial. Serta yang terpenting adalah anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, demi menanamkan rasa pengabdian kepada bangsadan negara.

Dari Ki Hajar Dewantara, kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga pernah memiliki seorang tokoh sekaligus pahlawan pendidikan yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Lantas sebagai penghargaan kepada beliau, apakah kita hanya berbangga saja? Tentu saja tidak. Namun untuk menjadi seorang insan yang memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi, kita juga tidak diharuskan untuk menjadi sama persis seperti Ki Hajar Dewantara. Kita cukup menjadikan karya-karya ataupun buah-buah pemikirannya semasa hidup sebagai referensi bagi kita dalam pengembangan diri untuk menjadi seorang insan yang cinta tanah air.

Rasa kecintaaan terhadap tanah air menjadi hal yang mutlak bagi setiap warga negara Indonesia. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan guna memupuk rasa kecintaan kita terhadap tanah air. Kita dapat berkembang dalam berbagai bidang dengan dilandasi asas cinta tanah air. Kita tidak harus menjadi sama persis seperti bangsa-bangsa lain yang sudah tergolong maju. Kita dapat menjadikan bangsa lain tersebut sebagai referensi kemajuan. Namun pada akhirnya, dengan dilandasi rasa cinta tanah air yang tulus dan total kita harus menjadi bangsa yang maju dalam berbagai bidang dengan gaya kita sendiri.

(sumber : https://www.academia.edu/11583251/Cinta_Tanah_Air).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar