Cinta Tanah Air
Jika kita
mendengar atau membaca kalimat ‘cinta tanah air’, hal apakah yang terlintas
pertama kali di benak kita? Apakah kita berpikir mengenai kecintaan kita
terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan menimbulkan suatu ikatan ini?
Atau yang di luar pemikiran kita pada umumnya yaitu kecintaan kita terhadap tanah
dan air, dalam konteks ini kita hanya mencintai tanah dan air, dimana tanah dan
air yang dimaksudkan adalah materi atau unsur tanah dan air yang ada di seluruh
belahan bumi. Tentu saja kebanyakan dari kita mengartikan kalimat cinta tanah
air seperti kecintaan kita terhadap negeri tempat kita lahir, bertumbuh, dan
menimbulkan suatu ikatan.
Cinta
tanah air yang sesungguhnya memberikan sebuah wawasan yang luas bagi kita dalam
menyikapi sebuah realita berupa kekayaan, keberagaman, dan kekhasan yang
dimiliki negeri kita tercinta ini, Indonesia. Kita sering mendengar kalimat
yang berbunyi ‘sejengkal tanah pun di negeri ini harus kita jaga’. Kalimat ini
hampir memiliki makna yang sama dengan pemikiran mengenai kecintaan kita hanya
pada materi atau unsur tanah dan air yang ada di muka bumi. Namun sesungguhnya
makna dari kalimat tersebut sangatlah luas, tidak hanya melulu soal kecintaan
kita pada unsur atau materi dalam sejengkal tanah yang dimaksud. Pertama, kita
harus menjaga sejengkal tanah pun di negeri kita ini dari upaya klaim maupun
tindakan- tindakan yang merugikan yang dilakukan oleh negara lain. Selanjutnya
kita sebagai warga negara Indonesia, apalagi di negeri sendiri, juga tidak bisa
seenaknya memperlakukan sejengkal tanah pun yang dijadikan sebagai perumpamaan
di atas. "ita tidak diperkenankan merusak aset-aset yang terdapat di atas
tanah tersebut, baik merusak secara fisik maupun merusak kehidupan sosio-kultural
yang telah bertumbuh di atasnya.
Masih ada
banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencintai tanahair kita ini,
!ndonesia. Sebagai insan yang memiliki kesadaran sebagai warga negara yang
baik, tentunya rasa akan cinta tanah air tersebut akan tumbuh secara alami
tanpa adanya paksaan dari pihak-pihak lain. Rasa ini akan tumbuh sebagai sebuah
kebanggaan, pengorbanan, dan penghormatan tertinggi bagi negeri kita tercinta
yaitu !ndonesia.
Ada
banyak figur yang dapat dijadikan contoh atau panutan bagi kita terutama dalam
hal mencintai tanah air. Salah satunya yang tentu tidak asing lagi di telinga
kita adalah sang bapak pahlawan
pendidikan, yaitu Ki Hajar Dewantara.
Sedikit
pengetahuan saja, Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dan
berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Sebelum berganti nama
menjadi Ki Hajar Dewantara, beliau memiliki nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat.
Namun, saat genap berusia 12 tahun menurut hitungan tahun Caka, beliau mengubah
nama menjadi Ki Hajar Dewantara tersebut. Tahukah alasan beliau mengganti nama
tersebut? Alasannya cukup sederhana namun memiliki makna. Beliau menggantinya
agar tidak ada lagi gelar bangsawan dalam namanya. Hal ini dimaksudkan supaya
beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dari
hal sepele seperti pergantian nama pun beliau cukup memperlihatkan karakternya
yang merakyat sekalipun beliau seorang bangsawan. Karakter merakyat ini pula
yang mencerminkan bahwa beliau adalah seorang tokoh yang mencintai tanahairnya
atau nasionalis.
Bersama
rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar Dewantara berusaha menciptakan pendidikan
yang mampu dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat. Usaha tersebut di wujudkannya
dengan mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan
itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa
peserta didik.
Dipilihnya
bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari “strategi”
untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Adapun logika berpikirnya
relatif sederhana, apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya
semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu
akan semakin tinggi.
Pernyataan
asas dari Taman Siswa berisi tujuh pasal yang memperlihatkan bagaimana
pendidikan itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab,
agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi serasi, terikat erat kepada milik
budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan
dalam hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan
peniruan yang membuta. Selain itu anak-anak dididik menjadi putra tanah air
yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan
negara.
Dari
gambaran sekilas cukup terlihat bahwa Ki Hajar Dewantara adalah sosok
nasionalis yang sejati. Kita dapat sedikit melihat buah-buah pemikiran yang
didasari kecintaannya pada tanah air yang salah satunya beliau tuangkan dalam
asas Taman Siswa yang berisi tujuh pasal. Dimana di dalamnya dijelaskan agar
anak-anak berkembang menjadi merdeka dan serasi, terikat dengan kebudayaan
milik sendiri sehingga terhindar dari pengaruh buruk dan tekananyang diciptakan
oleh rezim kolonial. Serta yang terpenting adalah anak-anak dididik menjadi
putra tanah air yang setia dan bersemangat, demi menanamkan rasa pengabdian
kepada bangsadan negara.
Dari Ki Hajar
Dewantara, kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga pernah memiliki seorang
tokoh sekaligus pahlawan pendidikan yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Lantas
sebagai penghargaan kepada beliau, apakah kita hanya berbangga saja? Tentu saja
tidak. Namun untuk menjadi seorang insan yang memiliki rasa cinta tanah air
yang tinggi, kita juga tidak diharuskan untuk menjadi sama persis seperti Ki Hajar
Dewantara. Kita cukup menjadikan karya-karya ataupun buah-buah pemikirannya
semasa hidup sebagai referensi bagi kita dalam pengembangan diri untuk menjadi
seorang insan yang cinta tanah air.
Rasa
kecintaaan terhadap tanah air menjadi hal yang mutlak bagi setiap warga negara
Indonesia. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan guna memupuk rasa kecintaan
kita terhadap tanah air. Kita dapat berkembang dalam berbagai bidang dengan
dilandasi asas cinta tanah air. Kita tidak harus menjadi sama persis seperti
bangsa-bangsa lain yang sudah tergolong maju. Kita dapat menjadikan bangsa lain
tersebut sebagai referensi kemajuan. Namun pada akhirnya, dengan dilandasi rasa
cinta tanah air yang tulus dan total kita harus menjadi bangsa yang maju dalam
berbagai bidang dengan gaya kita sendiri.
(sumber
: https://www.academia.edu/11583251/Cinta_Tanah_Air).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar