Jumat, 20 April 2018

PENDERITAAN

Chandra RP
1TB01
Ahmad N


Penderitaan

Definisi: Pengalaman seseorang pada waktu menahan sakit atau kesedihan. Penderitaan bisa secara fisik, mental, atau emosi. Banyak hal dapat menimbulkan penderitaan; misalnya, kerusakan akibat peperangan dan ketamakan dalam perdagangan, faktor-faktor keturunan yang tidak baik, penyakit, kecelakaan, ”bencana alam”, hal buruk yang dikatakan atau dilakukan orang lain, tekanan dari roh-roh jahat, kesadaran bahwa tidak lama lagi akan terjadi bencana, atau kebodohan diri sendiri. Penderitaan akibat bermacam-macam hal di atas akan dibahas di sini. Akan tetapi, penderitaan dapat juga dialami karena kepekaan seseorang terhadap keadaan menyedihkan orang lain atau kesedihannya melihat tingkah laku yang tidak saleh.

Contoh penderitaan fisikal: kesakitan, kegatalan, kena geletek, sesemut atau kebas, lapar atau dahaga, dan berbagai gejala penyakit.

 Penderitaan mental juga dipanggil psikologi atau emosi. Contohnya: kehibaan, kesedihan, kemurungan, jijik, kejengkelan, kemarahan, keberangan, kebencian, penghinaan, cemburu, iri hati, teringin, kekecewaan dan patah hati.

'Emangnya penderitaan ada manfaatnya?' begitulah tanya seorang teman. 'Loh jelas sekali banyak sekali manfaatnya,' jawab saya. Saya kemudian mencoba menjelaskan bahwa orang-orang yang hebat adalah mereka yang mampu mengarungi samudra penderitaan. Semakin menderita hidup seseorang maka kualitas hidupnya begitu sangat mengagumkan. Asal kita tahu bagaimana mengelola menderitaan menjadi keindahan, kebahagiaan dan kesehatan dalam hidup kita.

Pertama, Pengalaman penderitaan dalam hidup kita justru mengajarkan kita pada limpahan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta'ala agar kita semakin dekat dan taat kepadaNya, dengan demikian limpahan kasih sayang Allah akan memenuhi hati kita dan hati kita memancarkan kasih sayangNya untuk semua orang yang disekeliling kita. Kita bisa menjadi lebih sabar dan bijak dalam menghadapi kehidupan.

Kedua, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Kebahagiaan sejati pada dasarnya adalah mengalami kegembiraan dan penderitaan secara seimbang. Hidup menjadi dinamis ketika semuanya datang silih berganti antara kebahagiaan dan penderitaan.

Ketiga, penderitaan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain sebagai hamba Allah yang sama-sama dimuliakan. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemooh orang lain karena kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.

Keempat, ketika hati kita remuk redam, ingin menangis menangislah sesungguhnya apa yang kita rasakan sakitnya, dengan menangis merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati kita. Menangislah kepada Allah agar diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 'Apa yang disisimu akan lenyap dan apa yang disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an- Nahl : 96).

Kesimpulan :
Penderitaan adalah pengalaman orang pada waktu menahan sakit atau kesedihan. Banyak faktor yang menimbulkan penderitaan mau dari luar atau pun dari diri sendiri. Dalam hidup manusia diberikan penderitaan bukan untuk menjadikannya lemah atau semakin terpuruk, melainkan untuk bisa bangkit dan lebih kuat akan kehidupan ini. Manusia juga diberi pilihan akan penderitaan yang mereka dapat, pilihan berdiri meninggalkan penderitaan dan menjadi lebih baik atau terus berjalan di dalam penderitaannya tersebut. Tapi yang jelas manusia yang hebat adalah manusia yang bisa menjadikan sebuah penderitaannya sumber tantangan akan kesuksesan dirinya sendiri.

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Sumber:


Jumat, 06 April 2018

KEINDAHAN DAN MANUSIA


CHANDRA RP
1TB01
AHMAD NASHER


Keindahan
Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal"  adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.
Pengalaman "keindahan" sering melibatkan penafsiran beberapa entitas yang seimbang dan selaras dengan alam, yang dapat menyebabkan perasaan daya tarik dan ketenteraman emosional. Karena ini adalah pengalaman subyektif, sering dikatakan bahwa beauty is in the eye of the beholder atau "keindahan itu berada pada mata yang melihatnya.
Kata benda Yunani klasik untuk "keindahan " adalah κάλλος, kallos, dan kata sifat untuk "indah" itu καλός, kalos. Kata bahasa Yunani Koine untuk indah itu ὡραῖος, hōraios, kata sifat etimologis berasal dari kata ὥρα, hora, yang berarti "jam." Dalam bahasa Yunani Koine, keindahan demikian dikaitkan dengan "berada di jam (waktu) yang sepatutnya.
Sebuah buah yang matang (pada waktunya) dianggap indah, sedangkan seorang wanita muda mencoba untuk tampil lebih tua atau seorang wanita tua mencoba untuk tampil lebih muda tidak akan dianggap cantik. Dalam bahasa Yunani Attic, hōraios memiliki banyak makna, termasuk "muda" dan "usia matang.

Keelokan pada Manusia
Wanita yang elok rupanya disebut "cantik" atau "ayu", sementara pria yang rupawan disebut "tampan" atau "ganteng" di dalam masyarakat. Sifat dan ciri seseorang yang dianggap "elok", apakah secara individu atau dengan konsensus masyarakat, sering didasarkan pada beberapa kombinasi dari Inner Beauty (keelokan yang ada di dalam), yang meliputi faktor-faktor psikologis seperti kepribadian, kecerdasan, keanggunan, kesopanan, kharisma, integritas, dan kesesuaian, dan Outer Beauty (keelokan yang ada di luar), yaitu daya tarik fisik yang meliputi faktor fisik, seperti kesehatan, kemudaan, simetri wajah, dan struktur kulit wajah.
Standar kecantikan/ketampanan selalu berkembang, berdasarkan apa yang dianggap suatu budaya tertentu sebagai berharga. Lukisan sejarah memperlihatkan berbagai standar yang berbeda untuk keelokan manusia. Namun manusia yang relatif muda, dengan kulit halus, tubuh proporsional, dan fitur biasa, secara tradisional dianggap paling elok sepanjang sejarah.

Kesimpulan :
Indah adalah kata sifat yang memberikan presepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Sesuatu dikatakan indah apabila terasa oleh panca indra manusia. Keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar, dan elok. Contoh keindahan adalah bumi ini, didalamnya terdapat banyak sekali pemandangan alam yang sangat indah. Keindahan juga tidak hanya ada di alam, manusia pun juga bisa menciptakan keindahan itu disebut seni.

SUMBER :