TUGAS TIPOLOGI BANGUNAN
TIPOLOGI LANGGAM BANGUNAN MASA KOLONIAL

CHANDRA RIFQI PRAMESTA
21317319
2TB02
I.Pendahuluan
Pengertian Arsitektur Kolonial
Arsitektur kolonial merupakan sebutan
singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang selama masa pendudukan Belanda
di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi kependudukan menambah
kekayaan ragam arsitektur di nusantara. Seiring berkembangnya peran dan kuasa,
kamp-kamp Eropa semakin dominan dan permanen hingga akhirnya berhasil
berekspansi dan mendatangkan tipologi baru. Semangat modernisasi dan
globalisasi (khususnya pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan bangunan
modern seperti administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit atau fasilitas
militer. Bangunan – bangunan inilah yang disebut dikenal dengan bangunan
kolonial.
Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia
Sejarah mencatat, bahwa bangsa Eropa
yang pertama kali datang ke Indonesia adalah Portugis, yang kemudian diikuti
oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya kedatangan mereka dengan maksud
berdagang. Mereka membangun rumah dan pemukimannya di beberapa kota di
Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pelabuhan. Dinding rumah mereka
terbuat dari kayu dan papan dengan penutup atap ijuk. Namun karena sering
terjadi konflik mulailah dibangun benteng. Hampir di setiap kota besar di
Indonesia.
Dalam benteng tersebut, mulailah
bangsa Eropa membangun beberapa bangunan dari bahan batu bata. Batu bata dan
para tukang didatangkan dari negara Eropa. Mereka membangun banyak rumah,
gereja dan bangunan-bangunan umum lainnya dengan bentuk tata kota dan
arsitektur yang sama persis dengan negara asal mereka. Dari era ini pulalah
mulai berkembang arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Setelah memiliki
pengalaman yang cukup dalam membangun rumah dan bangunan di daerah tropis
lembab, maka mereka mulai memodifikasi bangunan mereka dengan bentuk-bentuk
yang lebih tepat dan dapat meningkatkan kenyamanan di dalam bangunan.
II.Bangunan kolonial
Salah satu contoh bangunan kolonial di
Indonesia adalah Museum Bank Indonesia.
MUSEUM BANK INDONESIA
Bank Indonesia (BI) adalah bank
sentral Republik Indonesia. Bank ini memiliki nama lain De Javasche Bank yang dipergunakan pada masa Hindia Belanda.
Sebagai bank sentral, BI mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua
aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta
kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Sejarah
Bangunan Museum Bank Indonesia di kawasan Kota
merupakan gedung bekas De Javasche Bank
(DJB). Dahulunya gedung ini adalah sebuah rumah sakit yang dikenal dengan nama
Binnen Hospital. pertama kali digunakan oleh DJB sejak 8 April 1828.
Kemudian pada tahun 1910, atau lebih dari 80 tahun setelah menempati gedung tua bekas rumah sakit ini, DJB mulai membangun kembali gedung ini. Perancangan bangunan dikerjakan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1912 merupakan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang Binneninieuwpoorstraat, kini Jalan Pintu Besar Utara. Pada tahun 1922, pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti ruang simpan barang berharga (kluis), ruang arsip, ruang pertemuan besar (ruang hijau), rumah penjaga gedung (concierge) dan garasi.
Pembangunan tahap ketiga dilakukan pada tahun 1924, merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Selain itu, dibuat pula bangunan di sepanjang Javabankstraat, kini jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan baru ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang sangat indah.
Tahun 1933, pembangunan tahap keempat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan kali ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat. Renovasi juga dilakukan di bagian muka di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Pembangunan tahap kelima dilakuka pada tahun 1935 untuk memodernisasi arsitektur tahap pertama. Selain menganut satu pintu keluar-masuk untuk menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya. Tahap ini juga menghilangkan kubah yang semula menghiasi atap gedung. Pembangunan ini selesai dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Pembangunan tahap kelima merupakan tahap terakhir dari rangkaian pembangunan gedung DJB. Selama Bank Indonesia menempati bangunan ini, tidak banyak perubahan yang dilakukan.
Kemudian pada tahun 1910, atau lebih dari 80 tahun setelah menempati gedung tua bekas rumah sakit ini, DJB mulai membangun kembali gedung ini. Perancangan bangunan dikerjakan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1912 merupakan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang Binneninieuwpoorstraat, kini Jalan Pintu Besar Utara. Pada tahun 1922, pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti ruang simpan barang berharga (kluis), ruang arsip, ruang pertemuan besar (ruang hijau), rumah penjaga gedung (concierge) dan garasi.
Pembangunan tahap ketiga dilakukan pada tahun 1924, merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Selain itu, dibuat pula bangunan di sepanjang Javabankstraat, kini jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan baru ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang sangat indah.
Tahun 1933, pembangunan tahap keempat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan kali ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat. Renovasi juga dilakukan di bagian muka di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Pembangunan tahap kelima dilakuka pada tahun 1935 untuk memodernisasi arsitektur tahap pertama. Selain menganut satu pintu keluar-masuk untuk menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya. Tahap ini juga menghilangkan kubah yang semula menghiasi atap gedung. Pembangunan ini selesai dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Pembangunan tahap kelima merupakan tahap terakhir dari rangkaian pembangunan gedung DJB. Selama Bank Indonesia menempati bangunan ini, tidak banyak perubahan yang dilakukan.
DESAIN
Bangunan Javasche Bank ini menganut gaya bangunan pada
masa Renaisance. Ciri-ciri ini terlihat dari dekorasi bangunan. Tampak pula
gaya renaissance pada pattern dinding bagian bawah yang dibuat bergaris-garis
layaknya dinding-dinding dengan batu bata (masonry).
Denah lantai 1
Denah lantai 2
Pada gambar diatas
terlihat adanya minarate yang menunjukkan ciri khas bangunan masa kolonial.
Bangunan ini menggunaan tritisan untuk mengurangi tampias air hujan dan
Bukaannya juga terlihat begitu lebar sehingga mendukung sirkulasi udara ke
dalam bangunan. Kebanyakan bangunan sekarang cahaya matahari atau tampiasan air
hujan langsung kedalam bangunan lewat jendela/bukaan dihalangi oleh
katakanlah semacam sorsoran yang menjorok ke keluar bangunan akan tetapi pada
bangunan ini justru bagian jendelanya yang dibuat mundur atau menjorok ke
dalam.
Pada gambar tampak
diatas terdapat Dormer ditata dengan rapih disepanjang atap. dormer ini disebut
sebagai lantern dimana fungsinya sebagai sirkulasi cahaya maupun udara.
Dibagian tengah-tengah gambar tampak diatas Terdapat menara jam yang lazim
berada pada bangunan penting pada zaman kolonial.
Bangunan ini
menggunakan relief bergaya campuran dari candi borobudur dan gaya klasik eropa,
menurut informasi yang saya dapatkan bangunan Javasche bank batavia ini adalah
bangunan gaya klasik eropa pertama sehindia belanda yang menggunakan campuran
gaya dekorasi daerah setempat/lokal. Kolom-kolom pada bangunan ini menggunakan
yunani doric.
Gambar di atas adalah
gambar kaca patri. Kaca-kaca patri di gedung ini dipesan dari studio Jan
Schouten, Delft, Belanda—diperkirakan pada sekitar 1922, 1924, dan 1935, ketika
gedung ini dibangun. Karena dirawat dengan hati-hati, sampai saat ini kondisi
kaca-kaca patri ini masih baik. Kaca patri ini adalah kaca yang dilukis dan
diberi warna dengan cara dibakar hingga 1.100°C agar mendapat kualitas warna
yang terbaik. Setelah diwarnai, kaca tersebut dirangkai menjadi beragam motif
dengan menggunakan patrian timah. Motif lukisan kaca patri di gedung ini
kebanyakan mewakili berbagai aspek seputar perdagangan dan kehidupan di Hindia
Belanda.
Kaca patri di lobi ini
terdiri dari tiga bagian. Di baris paling atas, sebelah kiri, menunjukkan
seorang dewi berlambang kota Batavia (sebagai tempat berdirinya De Javasche
Bank); dan di sebelah kanan menunjukkan seorang dewi berlambang kota Surabaya.
Kaca-kaca patri di baris tengah menggambarkan berbagai kegiatan seni, seperti
menyanyi, fotografi, drama, mematung, pembuatan film dan keramik. Pada baris
terbawah, digambarkan berbagai aktivitas masyarakat Hindia Belanda kala itu.
Dua yang paling kiri menggambarkan kegiatan bertenak dan bertani; di tengah
menunjukkan dua kapal—kapal bermesin uap dan kapal layar—yang melaut mengangkut
kekayaan Nusantara; dan dua yang paling kanan menggambarkan kegiatan panen dan
membatik.
Ilustraasi Kasus
Merupakan denah lantai 1 Museum Bank
Indonesia yang terdiri dari beberapa ruang diantaranya :
1. Pintu masuk belakang
2. Ruang serba guna
3. Ruang gelar budaya
4. uang jeda
5. Ruang penerbitan & pengedaran
uang
Ruang Perpustakaan
Merupakan denah lantai 2
Museum Bank Indonesia yang terdiri dari beberapa ruangan diantaranya :
1.
Pintu Masuk Utama
2.
Ruang Penitipan Barang
3.
Ruang Manager
4.
Ruang Lobby Hall &
Loket
5.
Ruang Pelayanan
Pengunjung
6.
Ruang Peralihan
7.
Ruang Theater
8.
Ruang Informasi BI
9.
Ruang Sejarah Pra BI
10.
Ruang Sejarah BI Periode
-1
11.
Ruang Sejarah BI Periode
-2
12.
Ruang Sejarah BI Periode
-3
13.
Ruang Sejarah BI Periode
-4
14.
Ruang Sejarah BI Periode
-5
15.
Ruang Sejarah BI Periode
_6
16.
Ruang Jeda & Children
Comer
17.
Ruang Direktur
18.
Ruang Gubernur
19.
Ruang Meeting
20.
Ruang Gelar Budaya
21.
Ruang Inspirasi
22.
Ruang Jeda & Children
comer
23.
Ruang Numismatik
24.
Ruang BI Future
25.
Ruang Kerja
26.
Ruang Emas
27.
Ruang Souvenir
Fasilitas
Museum BI beroperasi secara penuh pada tahun 2008. Museum Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas-fasilitas berikut:
Museum BI beroperasi secara penuh pada tahun 2008. Museum Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas-fasilitas berikut:
Ruang Penitipan Barang, disediakan bagi pengunjung
yang hendak menitipkan barang-barangnya selama berkunjung ke Museum Bank
Indonesia.
Pusat Informasi Bank Indonesia, dalam ruangan ini pengunjung akan dibanjiri dengan berbagai informasi dari masa lalu hingga masa kini dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan peran Bank Indonesia. Informasi tersebut dapat diakses menggunakan perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya.
Pusat Informasi Bank Indonesia, dalam ruangan ini pengunjung akan dibanjiri dengan berbagai informasi dari masa lalu hingga masa kini dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan peran Bank Indonesia. Informasi tersebut dapat diakses menggunakan perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya.
Di samping informasi yang berasal dari Bank Indonesia,
juga dapat diakses informasi dari beberapa sumber lain, dalam dan luar negeri.
Disediakan pula fasilitas untuk mencetak (printing) data/informasi dari
komputer. Kelengkapan informasi dalam ruangan ini masih ditambah dengan
hadirnya BI Virtual Museum, yang akan memberikan informasi tentang Museum Bank
Indonesia melalui jaringan internet.
Ruang Auditorium, terletak di lantai 2 Museum Bank
Indonesia berdekatan dengan pusat informasi BI (BI Information Center). Ruangan
ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ceramah/seminar/diskusi, baik yang
disponsori oleh Bank Indonesia maupun pihak luar.
Kios Buku dan Cenderamata, pengunjung dapat memperoleh berbagai hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.
Banking Expo, fungsi pembinaan bank yang diemban oleh Bank Indonesia, dapat direpresentasikan dalam ruang banking expo. Dalam ruangan ini, bank-bank dapat mempromosikan produk-produk terbarunya, sehingga pengunjung dapat membandingkan keunggulan dari setiap bank. Jadi, para pengunjung tidak hanya disuguhi sejarah perbankan di dalam ruang pamer, tetapi sekaligus dapat bertransaksi secara langsung.
Ruang Serbaguna, salah satu keunggulan Museum Bank Indonesia adalah terdapatnya beberapa ruangan yang dapat digunakan untuk kepentingan pengunjung. Salah satunya adalah ruang serbaguna yang terletak di lantai 1. Ruangan ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk berbagai keperluan, seperti resepsi pernikahan, rapat besar, dan lain-lain. Perpaduan pesta modern di tengah-tengah nuansa sejarah akan menjadikan pesta yang diselenggarakan semakin berkesan.
Kios Buku dan Cenderamata, pengunjung dapat memperoleh berbagai hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.
Banking Expo, fungsi pembinaan bank yang diemban oleh Bank Indonesia, dapat direpresentasikan dalam ruang banking expo. Dalam ruangan ini, bank-bank dapat mempromosikan produk-produk terbarunya, sehingga pengunjung dapat membandingkan keunggulan dari setiap bank. Jadi, para pengunjung tidak hanya disuguhi sejarah perbankan di dalam ruang pamer, tetapi sekaligus dapat bertransaksi secara langsung.
Ruang Serbaguna, salah satu keunggulan Museum Bank Indonesia adalah terdapatnya beberapa ruangan yang dapat digunakan untuk kepentingan pengunjung. Salah satunya adalah ruang serbaguna yang terletak di lantai 1. Ruangan ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk berbagai keperluan, seperti resepsi pernikahan, rapat besar, dan lain-lain. Perpaduan pesta modern di tengah-tengah nuansa sejarah akan menjadikan pesta yang diselenggarakan semakin berkesan.
Cafe Museum, merupakan salah satu unsur modernisasi
yang dihadirkan oleh Museum Bank Indonesia. Di tempat ini, pengunjung dapat
beristirahat sekaligus menikmati makanan dan minuman yang lezat, lengkap dengan
bacaan berupa harian dan majalah yang khusus mengupas masalah ekonomi, bisnis,
dan perbankan. Ditambah lagi dengan adanya beberapa televisi yang menayangkan
program-program yang berkaitan dengan ekonomi, bisnis, dan perbankan, sehingga
sangat cocok untuk perjamuan ringan dengan relasi bisnis di siang hari.
Fine Dining Restaurant, berbeda dengan cafe museum yang menawarkan nuansa santai, fine dining restaurant, menawarkan suasana yang lebih eksklusif. Suasana ini akan semakin terasa pada malam hari di area inner court dan outeryard.
Perpustakaan, merupakan salah satu fasilitas unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di Museum Bank Indonesia, yaitu: perpustakaan untuk para peneliti museum dan perpustakaan untuk umum. Kedua perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.
Pertokoan, walaupun sarat dengan unsur edukasi, Museum Bank Indonesia juga menyajikan nuansa hiburan, yang diantaranya diwakili dengan jejeran pertokoan yang terletak di lantai 1. Ruang pertokoan ini menjual berbagai macam barang eksklusif, misalnya boutique.
Masjid, Museum Bank Indonesia menyediakan sarana ibadah berupa masjid yang terletak di dalam lingkungan museum.
Fine Dining Restaurant, berbeda dengan cafe museum yang menawarkan nuansa santai, fine dining restaurant, menawarkan suasana yang lebih eksklusif. Suasana ini akan semakin terasa pada malam hari di area inner court dan outeryard.
Perpustakaan, merupakan salah satu fasilitas unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di Museum Bank Indonesia, yaitu: perpustakaan untuk para peneliti museum dan perpustakaan untuk umum. Kedua perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.
Pertokoan, walaupun sarat dengan unsur edukasi, Museum Bank Indonesia juga menyajikan nuansa hiburan, yang diantaranya diwakili dengan jejeran pertokoan yang terletak di lantai 1. Ruang pertokoan ini menjual berbagai macam barang eksklusif, misalnya boutique.
Masjid, Museum Bank Indonesia menyediakan sarana ibadah berupa masjid yang terletak di dalam lingkungan museum.
DAFTAR
PUSTAKA
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar